oleh

IMUNITAS WARGA

-OPINI-99 views

Dr. H. Idham Holik (Komisioner KPU Prov. Jawa Barat)

Oleh: Dr. H. Idham Holik (Komisioner KPU Prov. Jawa Barat)

DMTOpini – Pagi ini saya mendapatkan sebuah selebaran kecil (a small leaflet) yang terselip dalam sebuah buku lama yan berjudul “Tabayun Gus Gur: Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, Reformasi Kultural” (1998).

Walaupun tidak bermaksud mengulas isi buku tersebut, sebelum menjelaskan materi selebaran tersebut, saya ingin menyampaikan kutipan perkataan Gus Dur dalam buku tersebut yaitu “Saya mencita-citakan, ummat Islam Indonesia yang menjadi umat beragama yang berpandangan luas. Mampu memahami orang lain. Menumpahkan kebersamaannya yang utuh dengan segala pihak. Menjunjung tinggi kebebasan sebagai sarana demokrasi. Perkataan tersebut sangat relevan bagi kehidupan kita yang diberdayakan (powered by) internet, sebagai teknologi kebebasan (the technology of freedom).

Kembali ke fokus tulisan singkat ini. Selebaran kecil tersebut memuat gambar dan perkataan Gus Dur. Pertama, dalam selebaran tersebut, Gus Dur sedang tertawa, yang menjadi ciri khasnya. Tawanya Gus Dur mengaktivasi kuriositas saya untuk mencari referensi psikologis mengenai tawa (laughter), melalui search engine yang biasa orang kebanyakan sebut dengan nama Mbah Google. Akhirnya saya menemukan sebuah artikel yang menarik yang dimuat oleh sebuah website/laman konsultasi medis atau psikologis. Laman tersebut beralamatkan HelpGuide.org yang berbasis di California, “Paman Sam”.

TERUS MEMBACA

Kenapa laman tersebut saya rujuk? Karena laman tersebut memiliki reputasi yang sangat baik dimana telah melayani lebih 50 juta orang per tahun yang berada di lebih 180 negara. Dalam rubrik Well-being & Happiness, laman tersebut menampilan artikel yang berjudul Laughter is the Best Medicine.

Artikel tersebut menjelaskan tentang bagaimana tawa (laughter) dapat memperkuat sistem kekebalan (immune system), meningkatkan suasana hati (mood boosting), mengurangi rasa sakit, dan melindungi manusia dari efek stress yang merusak. Di tengah pandemi Covid-19, kita semua dituntut untuk terus meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh, Gus Dur ajarkan kita untuk tetap bahagia lewat tawa.

Deskripsi singkat tersebut, tentunya manfaat tawa dari sisi psiko-biologis. Sebenarnya tawa juga memiliki manfaat dari sisi manfaat sosial (social benefit) dimana setidak-tidaknya ada 5 manfaat tawa yaitu memperkuat hubungan, membuat komunikator menarik bagi yang lainnya, meningkatkan tim kerja (teamwork), membantu mengurangi konflik, dan memperkuat ikatan kelompok (group bonding).

Marilah kita tertawa seperti tertawanya Gus Dur. Biasanya Gus Dur tertawa setelah menyampaikan ungkapan “Gitu aja kok repot?” –jauh sebelum jadi Presiden RI, ungkapan tersebut sering disampaikan Gus Dur baik dalam public speakting atau media interview. Ungkapan tersebut tentunya tidak bermaksud mensimplifikasi persoalan, tetapi sebuah optimisme bahwa di setiap masalah selalu ada jalan keluar.

Putri Gus Dur, Yenny Wahid menjelaskan ungkapan itu berasal dari ilmu Fikih yaitu dari kalimat bahasa Arab “Yasir Wa La Tuasir” (permudah dan jangan dipersulit). Berbeda dengan Yenny, Munib Huda Muhammad, seorang ajudan Gus Dur –yang setiap saat mendampingi Gus Dur hinggal wafat pada akhir 2010, menjelaskan bahwa ungkap itu adalah ungkapan tasawuf dimana itu merupakan bentuk kepasrahan tingkat tinggi kepada Allah SWT, karena Allah SWT lah yang mengatur manusia.

Selanjutnya yang kedua, yang terpenting ingin saya sampaikan adalah, kutipan perkataan Gus Dur yang berbungi “Selama kau masih melihat dengan matamu dan mendengar dengan telingamu, kau mudah dibodohi! Melihat dan mendengarlah dengan ilmu!”. Sebuah kutipan yang luar biasa. Tanpa ilmu pengetahuan, organ sensorik mata dan telingga hanya memperteguh hasrat (desire) kita atas sesuatu. Tanpa ilmu pengetahuan, manusia hanya berada hegemoni –dominasi yang tidak disadari– atau kesadaran falsu (false consciousness).

Kekuatan persuasi dalam komunikasi ataupun propaganda baik dalam dunia marketing ataupun politik bahkan dalam dunia agama dapat berdampak negatif bagi khalayak peneriman pesannya. Tentunya, dampak negatif tersebut efektif bagi khalayak penerima pesan yang tidak memiliki ilmu pengetahuan yang bisa dijadikan sebagai referensi atau landasan dalam memproses informasi atau pesan politik atau pemasaran tersebut. Tanpa ilmu pengetahuan, warga akan menjadi passive audience –warga yang rentan (susceptible citizen). Sebaliknya, dengan ilmu pengetahuan, warga akan menjadi active audience, bahkan rational audience. Jadi, benar, ilmu pengetahuan itu seperti obor di tengah malam gelap gulita. Ilmu pengetahuan sebagai kekuatan pembebasan (the power of liberation). Dalam agama, ada teologi pembebasan dan dalam Islam, ilmu pengetahuan menjadi doktrin divinitas –hal ini bisa kita kaji setidak-tidaknya dalam Q.S. Al Alaq ayat ke-1 dan Q.S. al- Mujadalah ayat ke-11.

Mewujudkan masyarakat yang mencintai ilmu pengetahuan memang tidak mudah, apalagi di era serba instant dan dominasi gaya hidup hedonisme –lihat bagaimana anak muda menghabis waktu dalam sehari-hari, online game lebih menarik bagi sebagai besar mereka.

Ini menjadi tantangan. Dalam konteks demokrasi, mengedukasi warga agar tidak mudah dibodohi kini menjadi civic responsibility ataupun moral responsibility bagi kita semua.

Kenapa demikian? Karena saat ini dunia politik (elektoral) kita masih dalam ancaman populisme, politik identitas, propaganda “semburan kebohongan” (“firehose-of-falsehood” proganda) atau propaganda model Rusia, primordialisme politik, dan lain sebagaimananya. Oleh karena itu, menjadi sangat mendesak (highly urgent) dan harus dilakukan secara berkesinambungan untuk diadakannya pendidikan kewargaan (civic education) ataupun pendidikan elektoral (electoral education).

Mahatma Ghandi pernah berkata “What is really needed to make democracy function is not knowledge of fact, but right education”. Hanya dengan pendidikan yang benar lah demokrasi bisa berfungsi dengan baik. Kuotasi Ghandi tersebut mempertegas tentang pentingnya gerakan civic education.
Hanya dengan pendidikan tersebut, warga terproteksi dari beragam ancaman politik negatif ataupun post-truth politics, karena warga karena memiliki imunitas cukup dalam bentuk literasi warga (civic literacy). Dengan literasi tersebut, warga memiliki daya tolak terhadap politik negatif ataupun post-truth politics yang dapat merusak nalar.

Jadi tawa (laughter) dan ilmu pengetahuan memiliki kesamaan yaitu sama-sama dapat meningkatkan imunitas kita baik dari sisi biologis ataupun politis. Marilah kita tertawa….hehehhee….tapi tentunya sambil mempelajari ilmu pengetahuan.
(***)

Sumber: Halaman Facebook Dr. H. Idham Holik

Komentar

Berita Terkait