oleh

POLITIK ITU (BUKAN) SIMPANSE

-OPINI-48 views

Dr. H. Idham Holik (Komisioner KPU Prov. Jawa Barat)

Oleh: Dr. H. Idham Holik (Komisioner KPU Prov. Jawa Barat)

DMTOpini – Hasil observasi terhadap simpanse di kebun binatang di Belanda, Frans de de Waal menuliskannya dalam sebuah buku yang berjudul Chimpanzee Politics: Power and Sex among Apes. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1982 dan pada 30 September 2007, Johns Hopkins University Press menerbitkan edisi ulang tahun ke-25.

Buku ini sangat fenomenal dan menstimulasi para pembacanya untuk mengkomparasikan antara perilaku primitif manusia dengan perilaku simpanse, sang aktor dalam buku tersebut.

de Waal mengemukakan bahwa simpanse menggunakan segala macam teknik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Inilah yang disebut oleh de Waal sebagai politik simpanse (chimpanzee politics)

Simpanse Arnhem, objek pengamatan de Wall, berperilaku dengan cara yang kita kenali dari seorang teoritisi politik, diplomat, dan konsultan politik Italia Niccolò Machiavelli. Pada tahun 1532, Machiavelli pernah menerbitkan sebuah judul The Prince. Buku tersebut bisa dikatakan sebagai buku babon bagi para pemburu kekuasaan (the predator of power).

Kembali ke buku Chimpanzee Politics, de Waal mengingatkan kita bahwa akar politik lebih tua dari kemanusiaan. Dalam menjalani hidup simpanse juga berpolitik.

Mereka sering melakukan kekerasan, tetapi tidak selalu. Simpanse membentuk koalisi, menggertak satu sama lain, dan bahkan menunjukkan kesadaran akan hubungan timbal balik sosial (awareness of social reciprocity) , karena mereka tampaknya menyadari bahwa bantuan harus diberi penghargaan (rewarded) dan ketidaktaatan harus dihukum (punished).

Pada dasarnya, praktek politik tentunya tidak bisa dipisahkan dari praktek persuasi, karena persuasi bersifat sangat fundamental atau lebih tepatnya sangat esensial. Tidak ada tindakan politik yang tidak bersifat intensional.

Lalu ada sebuah pertanyaan yang penting kita ajukan, apakah ini berarti simpanse mampu melakukan persuasi? Beberapa ilmuwan akan menjawab “ya” dan mengutip sebagai bukti teknik halus (’ subtle techniques) simpanse untuk mengamankan kekuasaannya. Kini sudah banyak ilmuwan yang menjelaskan tentang semakin banyaknya bukti bahwa kera (apes) atau simpanse dapat membentuk gambar, menggunakan simbol, dan melakukan penipuan.

Tulisan sangat singkat ini semoga bisa jadi refleksi kita semua dalam menatap politik.

Tentunya, pada kesempatan ini, mari kita renungi perkataan Aristoteles: Man is by nature a political animal (manusia pada dasarnya adalah hewan politik).

Dikarenakan, saya bukan Darwinian, saya ingin mengatakan bahwa manusia dipastikan bukan simpanse. Manusia adalah mahluk moral (the moral creatures). Apakah proposisi ini berlaku universal? Tentunya jika kita menggunakan perspektif manusia sebagai mahluk yang unik, bisa diprediksi bahwa jawaban dari proposisi tersebut yaitu tidak berlaku universal dan sebaliknya bersifat relatif.

Jadi semua ini kembali pada kesadaran manusia itu sendiri dalam berpolitik. Terima kasih.

(***)

Sumber: Halaman Facebook Dr. H. Idham Holik

Komentar

Berita Terkait